Sabtu, 01 Juni 2013

Mereka


Semua ini karena mereka.
Ya, karena merekalah aku menjadi hina
Hina dimata mereka
Mereka selalu mengolok kecacatanku ini
Ini adalah bukti bahwa mereka lebih kejam dari seekor binatang buas
Buas laku dan ucapannya
Ucapan yang tak pernah ada makna, keji bahkan busuk
Lebih busuk dari bangkai manusia
Manusia macam apa mereka?
Mereka…

Sabtu, 25 Mei 2013

Selamat Jalan


Entah mengapa mentari pagi ini melengkungkan senyummu
Hujan yang turun pun sepertinya memaksaku untuk tetap berpijak di sini

Aku raba sketsa mawar darimu sambil memandang potret wajahmu
Pesona dirimu sulit untukku hapus dalam benakku

Seandainya sketsa ini bisa di tanam, mungkin ia telah tumbuh subur
Dan harumnya bisa kucium setiap hari

Katanya kamu tak akan pergi dariku
Nyatanya kamu betah berlama-lama tanpa di sisiku

Katanya kamu cinta kepadaku
Nyatanya kamu lebih memilih cinta yang lain

Cinta yang kau tanam sulit untukku cabut
Karena akarnya dengan cepat merambat ke seluruh tubuhku

Tetapi waktu berjalan begitu singkat
Secepat kepergianmu dari sisiku

Sampai-sampai aku lupa untuk berujar
Selamat jalan, semoga kita bisa bersua lagi di lain waktu

Rabu, 17 April 2013

Tantangan Berhijab di Era Globalisasi


            Berhijab di era globalisasi saat ini merupakan tantangan terberat dalam hidup saya. Sebenarnya saya memakai hijab bukan karena orang tua atau karena sekeluarga besar memakai hijab, tetapi memang ada dorongan dari dalam hati untuk memakainya. Walaupun sampai saat ini belum bisa dibilang syar’i.

Terlebih belakangan ini hijab seperti menjadi tren dikalangan anak muda. Tidak bisa dipungkiri ada perasaan senang ketika melihat seorang perempuan terlihat cantik mengenakan hijab, penulis dan reporter berhijab, perancang busana yang mengenakan hijab sampai baju rancangannya terkenal diluar negeri, fashion stylish yang pintar mengutak-atik gaya berhijabnya, hingga seminar tentang hijab dan perempuan berhijab, dan masih banyak lagi. Sebenarnya sah-sah saja selama tidak menyimpang dari ajaran Islam. Karena sosok merekalah perempuan-perempuan Indonesia saat ini tergetak hatinya untuk memakai hijab dan mulai mengikuti jejak mereka.

            Banyak yang memutuskan untuk berhijab, banyak pula yang membuka hijabnya dikarenakan banyak hal. Banyak juga yang menganggap berhijab itu kampungan, membatasi geraknya sebagai perempuan yang aktif, takut tidak diterima kerja, susah mendapat jodoh dan alasan-alasan lain. Diantara semua alasan diatas, ada salah satu alasan yang menurut saya tidak rasional: “Hati dulu yang dikerudingin, kepala mah belakangan. Sekarang kan banyak perempuan berhijab tapi kelakuan biadab. Mendingan seperti saya, gak pake hijab tapi gak suka bergosip.”

            Memang, bukan hanya kepala yang harus “dikerudungin” hati pun juga perlu. Tetapi mau sampai kapan membiarkan aurat kita dilihat oleh orang lain? Ketika kita membiarkan aurat terlihat, apakah itu namanya melanggar apa yang sudah Allah perintahkan? Sudah jelas firman Allah yang memerintahkan untuk menutup aurat. Islam memang tidak mempersulit, tetapi umatnya yang menyulitkan. Islam juga mempermudah, tetapi jangan disepelekan.

            Kepala sudah “dikerudungin” sudah pasti hati pun juga begitu. Kita pasti membatasi apa saja yang menurut kita tidak pantas dilakukan. Kita juga pasti malu ketika perbuatan kita tidak sesuai seperti perempuan berhijab. Justru karena hijablah kita bisa mengontrol semuanya.

            Pernah suatu hari teman bertanya kepada saya, “Pake jilbab enak gak sih? Gak panas tuh? Emangnya kamu gak kepengin pake rok pendek yang lagi happening?” Saya menjawab sambil tersenyum. “Kalo udah biasa pasti gak panas kok. Justru kamu yang kepanasan karena kepalamu kena terik matahari langsung. Bajumu juga pendek. Kalo pake jilbab kan semua badan ketutup, Insya Allah terlindung dari sinar matahari langsung. Saya juga gak iri tuh sama kalian yang gak pake hijab. Toh sekarang sudah banyak baju-baju untuk perempuan seperti saya yang gak kalah bagusnya dibanding baju kalian.”
Itu salah satu jawaban yang paling ampuh dan langsung nancep kehati.

            Bukan berarti saya tidak pernah iri melihat perempuan memakai rok pendek, hotpants, atau baju tidak berlengan. Apalagi sekarang dunia fashion sedang berlomba-lomba menyuguhkan pakaian-pakaian yang menurut saya tidak pantas dan tidak cocok dipakai oleh orang Indonesia. Sempat terbesit dalam hati “Seandainya saya gak pake jilbab, mungkin saya udah pake rok itu ke kampus atau pake hotpants itu ketika jalan-jalan di mall.” Namun buru-buru saya menepisnya. “Kasian yah dia pake celana pendek. Auratnya diobral begitu. Kepanasan pula. Ih gak takut kulitnya kebakar yah?”

            Saya juga sering kesal melihat perempuan berhijab tetapi judes, tidak mau berteman dengan perempuan yang tidak sepaham dengannya atau menjauh dari segala urusan yang bersifat duniawi dan terkesan punya pemikiran sempit dengan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Allah memang memerintahkan umatnya agar membatasi urusan duniawi, tetapi Allah juga memerintahkan umatnya untuk banyak bergaul dengan siapapun dan terus menggali ilmu, selama ilmu itu bermanfaat dan tidak menyesatkan. Memakai hijab bukan berarti sudah terhindar dari dosa dan fitnah. Justru ini lah tantangan kita sebagai muslimah berhijab, apakah kita semakin istiqomah dijalan-Nya atau tidak.

            Semakin banyak aktifis dan tokoh-tokoh berpengaruh, membuat perempuan berhijab tidak lagi dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka sederajat dengan lelaki bahkan lebih tinggi dari lelaki. Mereka dengan bebas melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perempuan berhijab tanpa diusik oleh pihak-pihak yang tidak berkenan. Dan Islam juga tidak lagi dipandang suatu agama yang keras dan menakutkan.

Menjamurnya komunitas-komunitas seperti hijabers community dari berbagai daerah dan kegiatan positif yang mereka lakukan merupakan salah satu yang menginspirasi perempuan lain dan membangkitkan kepercayaan mereka. Mereka memang belum berhijab secara syar’i dan terlihat glamour tetapi bukan berarti tidak ada hal positif dari kegiatan mereka yang bisa dicontoh.

Kita sebagai muslimah berhijab yang hidup di era globalisasi yang mempunyai kebebasan berpendapat, seharusnya menyikapi fenomena diatas secara realistis bukannya malah menghakimi si A karena hijabnya tidak syar’i dan pakaian ketat. Menghakimi si B karena hijabnya panjang, bajunya besar dan berwarna gelap. Karena pemikiran seperti ini lah yang membuat Islam tidak bersatu.

Sabtu, 06 April 2013

Puisi Terakhir


Penantianku sepertinya sia-sia
sia-sia aku merindukanmu siang dan malam
apakah kau juga merindukanku? Sepertinya tidak
mungkin waktu yang telah merubah semua kenyataan ini
meski ku tak berubah, namun hanya kau lah yang menyita seluruh hatiku

Kita memang sudah nyaman dengan keadaan ini
walaupun tidak seperti yang ku harapkan
buatku, kehadiranmu  seperti membawa angin segar dihidupku
aku memang bukan wanita yang sempurna
kehadiranmu lah yang membuat diriku sempurna

Tak bisa ku pungkiri, dirimu berada diantara cinta dan benci
tetapi aku tidak dapat membedakan keduanya
perjalanan kita memang begitu singkat
tanpa kau sadari, kau telah menancapkan
sesuatu yang membuatku tergila-gila padamu

Cinta ini memang tak pernah berkurang
dan tak pernahku mencoba untuk menghilangkannya
apakah kau peduli dengan perasaan ini?
berusaha mencariku saja tidak

Semua yang telah kita lalui biarlah menjadi kenangan manis
yang lalu biarlah berlalu dan jangan sampai ini terjadi lagi
biarlah kita jalani cinta dijalan yang berbeda

Puisi terakhir ini kupersembahkan untukmu
semoga kau membacanya dan mengerti apa yang sedang ku  rasakan

Dekiru dake nakanaide. Kore de, hontouni arigatou
dakishimete! dakishimete! Ashita ga aru, mata kondo ne..

Kamis, 04 April 2013

Dua Bulan yang Lalu

Dua bulan yang lalu, ditempat, waktu dan kursi yang sama
aku masih setia menunggu kedatanganmu
menikmati hembusan angin yang tak seperti biasanya
membuka lembar demi lembar sajakmu yang tersimpan rapi dibuku catatanku
aku hapal betul setiap barisnya

Dua bulan yang lalu, ditempat, waktu dan kursi yang sama
aku mengingat pertama kali kita bertemu
ketika pertama kali aku berjabat tangan denganmu
dan pertama kali aku memelukmu

Aku termenung, membayangkan apakah kebahagiaan itu terulang
kembali atau hanya menjadi kenangan manis dalam hidupku?
semuanya terasa begitu aneh
siang dan malam masih saja memikirkanmu
semakin aku mencoba untuk melupakanmu, bayanganmu pun semakin nyata

Hari ini ditempat, waktu dan kursi yang sama
semuanya terasa begitu singkat
sesingkat kepergianmu
butir demi butir air mataku pun menetes
mungkin ini yang dinamakan cinta
mulut memang tidak saling bicara
mata pun tidak saling memandang
tetapi hati yang bicara apa yang sedang aku rasakan

Senin, 01 April 2013

Ibu


Ibu, disaat aku membutuhkan seorang teman
kau hadir disampingku
menyandarkanku ke bahumu
mendengarkan setiap keluh kesahku
mengusap air mataku ketika aku bersedih

Ibu, kau terlihat begitu anggun ketika tersenyum
wajahmu cerah seperti disinari mentari pagi

Ibu, kau memang sosok paling setia
mengalahkan setianya seorang sahabat
bahkan lebih setia dibandingkan seekor merpati

Ibu, kau tak pernah berkeluh kesan kepadaku
tidak pula bersedih dihadapanku
tidak pernah aku melihat setetes air mata membasahi pipimu

Ibu, kau rela terjaga ketika aku jatuh sakit
kau pun rela membagi makananmu ketika aku kelaparan

Ibu, setiap malam kau meninabobokan ku
mendekap hangat tubuhku
membelai lembut rambutku

Ibu, kau tiada duanya
Ayah pun tak bisa menggantikan sosokmu, Bu

Rabu, 27 Maret 2013

Elegi Tentangmu


Kemanakah dirimu yang ku kenal dulu?
Sedang apakah dirimu? Apakah dirimu baik-baik saja?
Dirimu yang selalu memberiku semangat
Dirimu yang selalu ada disisiku ketika aku membutuhkanmu
Dirimu yang selalu kuingat ketika aku membuka mata
Dan dirimu yang selalu membuatku tersenyum

Aku rindu engkau yang dulu
Engkau yang selalu tersenyum tulus kepadaku
Kemanakah dirimu yang ku kenal dulu?
Tiba-tiba saja menghilang bagai ditelan bumi
Pergi meninggalkanku tanpa mengucapkan satu kata pun
Perlahan, bayangan wajahmu menghilang dari  benakku
Perlahan, aku lupa suaramu yang lembut
Apalagi yang bisa kuingat? Wajah dan suaramu pun aku sudah lupa

Apakah engkau sedang  menguji  cintaku atau kau sedang mempermainkanku?
Tak sampai hati aku berpikir demikian
Apakah kebahagiaan yang dulu akan terulang lagi atau memang sudah harus diakhiri?
Apakah ini sifat aslimu?
Engkau mengajakku terbang dan dengan begitu saja menghempaskanku ke bumi
Aku hanya takut ketika aku membuka mata di pagi hari dan aku mengetahui bahwa engkau sudah tidak mencintaiku lagi

Lalu, sampai kapan aku menahannya?
Sampai aku sudah benar-benar jenuh dan perasaan ini semakin hari memudar, begitu?
Sampai rindu ini meluap-luap?
Atau sampai aku tidak bisa membedakan antara cinta dan benci?
Tuluskah semua kata cintamu dulu?
Tuluskah semua pengorbananmu?
Mungkin memang Tuhan sudah mentakdirkan jalannya seperti ini

Rasa sakit ini selalu tertutupi karena begitu besarnya cintaku kepadamu
Bahkan ketika engkau menikam tepat dijantungku
Kau anggap aku apa?
Apakah aku tak pantas untuk bahagia?

Air mataku sudah kering
Lidah pun sudah kelu
Mulut sudah terkunci
Dan aku hanya bisa berdiri mematung memperhatikanmu dari kejauhan

Sepotong senja serta pelangi setelah hujan pun tak akan mampu menggantikan dirimu
Lelaki yang membuatku jatuh hati, bahkan jatuh ke tanah