Rabu, 01 Januari 2014

Hujan Punya Cerita Tentang Kita

Ada masa di mana seseorang yang sangat kita cintai tiba-tiba pergi meninggalkan kita
Dan disaat itu kita seperti orang yang sangat bodoh
Bodoh karena hanya bisa terdiam tanpa menahannya untuk pergi
Ada masa di mana dulu seseorang yang kita sayang memeluk dan menggenggam erat tangan
kita ketika turun hujan. Kita saling berbagi cerita di bawah rinai hujan dan mengikat janji
Yang disaksikan oleh rintik-rintik hujan yang menciprat membasahi lengan kita
Aku sangat senang ketika turun hujan karena begitu banyak kenangan yang kita lalui bersama hujan
Dan hari ini hujanpun turun lagi
Aku tetap menikmatinya. Rintik-rintiknya menyentuh lembut pipi dan telapak tanganku serta beberapa rintiknya kubiarkan terhanyut bersama daun-daun yang berguguran

Elegi Tentangmu 2

Masih di sini menunggu ketidak pastian
Menanti seseorang yang tak ingin dinanti
Akankah kita bisa bertemu pada ruang sepi?

Masih di sini bergerak tak tentu arah
Membayangkan masa yang lalu
Apakah masa itu bisa terulang kembali
Atau harus kucabik hingga tak tersisa?

Kamu. Begitu banyak kenangan tentangmu
Tanpa bisa kulupakan barang sebutirpun

Dan dengan sekejap kamu hilang bersama kenangan yang sengaja tak kulupakan

Sabtu, 21 Desember 2013

Sajak untuk Mama

Ma, sungguh besar pengorbanan untuk anak-anakmu
Engkau pun ingin yang terbaik untuk anak-anakmu
Celotehanmu telah menjadi bumbu dalam hidup kami
Kami pun sudah mengerti maksud celotehanmu itu dan kami sudah cukup dewasa untuk menerimanya

Ma, hari-hatimu kau habiskan untuk mengurus rumah serta kami
Bahkan kepentingan dirimu pun tak kau pikirkan
Engkau selalu tersenyum ketika kami tiba di rumah
Menyambut di muka pintu sambil bertanya “Mengapa baru pulang? apakah hari ini jalanan macet? Apakah kamu sudah makan? “ tidak jarang kami tak menghiraukanmu dan lantas masuk ke kamar

Ma, maafkan jika sampai saat ini kami belum bisa menjadi yang kau harapkan
Ketika kami tak sengaja membentakmu, kami pun sadar apa yang kami lakukan itu salah

Ma, aku takut. Sangat takut kehilangan diri dan cinta kasihmu
Aku takut engkau pergi selamanya sebelum menyaksikan kesuksesan kami
Aku takut kau terlihat tua, beruban, keriput bahkan hanya berbaring lemah di atas tempat tidur

Ma, jikalau suatu hari aku pergi terlebih dahulu meninggalkanmu
Maafkanlah semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan terhadapmu
Dan jika suatu hari kau menemukan tulisan ini, bacalah dan respilah
Simpanlah ditempat yang kau anggap aman
Bacalah jika suatu waktu kau rindu denganku
Aku yakin, engkau pasti kuat kehilangan diriku untuk selamanya
Tetapi tidak denganku
Aku pasti gila
Aku pasti merindukan celotehan, perhatian, pelukan dan belaian lembut darimu
Sewaktu aku tiba di rumah, engkau marah dan mengeluarkan semua isi lemariku dan melemparnya ke segala arah
Sungguh aku tak marah ataupun sakit hati
Sungguh tak ada perasaan itu di dalam hatiku
Aku hanya bisa menangis dan terdiam sambil memikirkan sesuatu yang aku pun tak tahu apa yang sedang kupikirkan saat itu

Senin, 25 November 2013

Ketika menulis sajak ini, air mataku tak hentinya mengalir dan membasahi pipiku.

Selamat Hari Ibu. Haha no Hi Omedetou Gozaimasu.
Okaasan, doumo arigatou gozaimasu. Aishiteiru :*

Jumat, 26 Juli 2013

Dua Puluh Enam Juli

Masih di sini, diantara nyata dan ilusi
ditemani bayang-bayang dirimu yang menari dibenakku
bayang itu sepertinya betah dan sulit enyah
aku pun menikmatinya kala kau menyapaku dengan senyum manismu

Kau tahu betapa besar pengaruhnya puisi-puisi
yang pernah kau kirim di dalam hidupku
tetapi nampaknya kau pura-pura tak mau tahu

Dadaku sesak menahan rindu yang menggebu. Pengap.
tak ada celah untukku bernapas tanpa memikirkanmu sedetik pun

Kamu memang bukan kamu yang dulu
yang sempat memujiku dengan puisi dan membuatku terbang

Aku pun lupa untuk mendarat karena aku takut
terperosok atau bahkan tersungkur ke tanah

Rabu, 26 Juni 2013

Berhenti Berharap

Asaku hanyut bersama daun yang terbawa arus hujan petang tadi
aku membiarkan ia lenyap bahkan tak kembali lagi
dan kubiarkan ia terbang bersama debu dan asap

Mereka bilang, aku beruntung memilikimu
tapi itu tak seperti yang mereka katakan

Jarak kita memang berdekatan
tetapi ada puluhan tembok yang menghalangi langkah kita
seperti ratusan bahkan ribuan kilometer
untukku bisa menggenggam tanganmu kembali

Aku butuh pijakan untuk melangkah
tetapi kamu tak menyambutnya

Mungkin aku membutuhkan seseorang untuk bisa menyambut tanganku
tetapi sentuhannya tidak seperti dirimu
sentuhan lembut yang bukan hanya dikulitku
tetapi tepat dihatiku

Dan itu hanya kamu yang bisa menaklukan hatiku
setelah sekian lama penantian dan perjalanan panjang diriku

Senin, 24 Juni 2013

Secuil Harap

Malam ini, kubuka kembali buku catatanku
buku di mana kuabadikan ratusan puisimu
buku yang belakangan ini sengaja tidak kubuka karena ketika membacanya,
aku takut bayanganmu kembali hadir dimimpi-mimpiku

Dulu, aku sempat berharap buku itu akan terisi penuh oleh puisimu
ternyata hanya terisi setengahnya
dan sepertinya setengah dari sisa halamannya tidak akan pernah terisi lagi

Aku sadar, kamu tak akan pernah datang kembali
untuk mengisi sisa halaman buku itu
mungkin kamu sedang mengisinya dibuku perempuan lain, mungkin

Tak ada yang bisa kuingat selain kenangan manis dan buku ini,
peninggalanmu yang tersisa
apa aku salah berharap kita bisa merangkai kata dan merajut asa
bersama-sama seperti dulu?

Semoga saja tak ada perempuan lain

yang melanjutkan puisimu dibuku catatannya

Sabtu, 22 Juni 2013

Puncak Gunung Gede

(Fragmen bagian terakhir dari novel Karena Kamu Cuma Satu karya Shabrina MY)


Aku senang sekali ketika Dion mengajakku untuk mendaki gunung Gede bersama-sama. Aku mempersiapkan semuanya dari seminggu sebelum keberangkatan.
“Serius, Di?” tanyaku tidak percaya ketika Dion datang memberi kabar sore itu.
“Iya, sayang. Kan waktu itu aku pernah janji mau ngajak kamu, Rin.”
“Asik…” aku langsung memeluk Dion.
“Aku pengin banget mendaki gunung bareng perempuan yang paling aku sayang.”
Aku tersipu malu.
“Mulai dari sekarang, kamu harus latihan jalan kaki setiap hari, latihan lari keliling stadion 5 kali. Biar di sana kamu gak gampang capek, Rin. Oh iya, jaga kesehatan yang paling penting.” tambahnya.
“Kita berdua aja, Di?”
“Sama temen-temen aku. Tapi kita dari Jakarta berdua. Temen-temenku jalan duluan.”
“Oke. Oh iya, aku sampe lupa ngajak kamu masuk ke dalem.” aku menarik tangan Dion masuk ke dalam rumah.
“Eh, ada Dion. Ke mana aja baru kelihatan? Makin ganteng aja nih calon menantuku.” sapa Mama ketika keluar dari dalam kamarnya.
 “Hehehe maaf tante kemaren-kemaren aku lagi banyak urusan.” jawabnya langsung mencium tangan Mama.
 “Sering-sering main ke sini yah, Nak! Tante senang kalo rumah ini rame.”
 Dion hanya senyam-senyum.
“Tun… Atun… Tolong bikinin minum untuk calon menantu saya!” suruh Mama. “Atun… Kamu denger saya gak sih? Aduh… Maklumlah si Atun baru seminggu kerja di sini. Dia belum terbiasa dengan suara cempreng saya.” ujar Mama sambil duduk di sebelah Dion.
Mama selalu memperlakukan Dion begitu istimewa. Layaknya raja yang memang harus di jamu dengan baik. Mama juga senang ketika pertama kali aku memperkenalkan Dion kepadanya. Kata Mama, Dion tampan dan gak banyak gaya. Pokoknya, Dion harus menikah denganku.



***



Tepat jam 8 pagi aku sudah siap dengan semua perlengkapan untuk mendaki. Dan tidak ketinggalan jaket parasut berwarna kuning hadiah ulang tahun dari Papa.
“Beneran gak ada yang ketinggalan?” tanya Mama yang ikut sibuk mempersiapkan semua kebutuhanku.
“Udah kok, Ma.”
“Kamera, dompet, HP gak ketinggalan kan?” tambah Papa.
“Udah beres semua, bos. Tenang aja.”
“Itu calon menantu kita sudah datang.” ujar Papa.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam…”
“Aduh… Gantengnya calon menantuku.” Mama mengelus-elus pipi Dion.
“Hehehe tante bisa aja.” Dion tersenyum malu.
“Kamu ke terminal naik apa Dion?” tanya Papa.
“Naik angkutan umum aja tante.”
“Angkutan umum? Perjalanan kalian masih jauh kalo naik angkutan umum nanti keburu capek di jalan. Mama gak tega, Nak. Pa… Cepet ambil kunci mobil kita antar mereka sampe ke stasuin.”
“Ya udah, itu ide bagus.” ujarku.
“Sebentar yah Papa mau ambil kunci mobil dulu.”
Di tengah perjalanan menuju terminal Kampung Rambutan, Mama dan Papa tidak henti-hentinya memberi pesan kepada kami untuk selalu berhati-hati dan berdoa kapan pun.
Mama dan Papa mengantar sampai bus yang kami tumpangi jurusan Bogor meninggalkan terminal. Dua jam kemudian, kami tiba di perempatan Cibodas. Untunglah jalan menuju puncak tidak seramai biasanya.
Udara sejuk sudah mulai terasa. Menghirup udara segar dan menghembuskannya secara perlahan. Aku dan Dion duduk-duduk sebentar di pinggir jalan untuk sekadar bersantai. Belum sampai di puncak saja aku sudah merasa letih.
Aku kira sudah hampir sampai. Ternyata kami harus naik angkutan umum untuk sampai ke sana. Kira-kira 6 KM dari tempatku berdiri saat ini. Sampai di PHPA Taman Nasional Gede Pangrango, kami segera melapor bahwa kami ingin mendaki gunung ini.



***



Setelah beristirahat, sekitar jam 2 dini hari, aku beserta rombongan memulai perjalanan menuju puncak Gede. Aku perempuan satu-satunya dari sepuluh orang lelaki.
Rasanya aku ingin menyerah tetapi dengan sabar Dion membimbingku menaiki tanjakan-tanjakan terjal yang di dominasi dengan bebatuan licin. Lengah sedikit, pasti bisa tergelincir. Karena kami berada di ketinggian 2.500 mdpl menuju ke tinggian 2958 mdpl, kadar oksigen pun semakin menipir. Rasanya sulit sekali untuk bernapas.
“Sekarang kita udah sampe di tanjakan setan. Satu setengah jam lagi kita sampe di puncak Gede. Hati-hati semakin ke atas jalurnya semakin licin. Semangat temen-temen!” ujar Edi penuh semangat.
Kenapa dinamakan tanjakan setan? Karena tanjakan ini memiliki kemiringan sekitar 70 derajat dengan ketinggian 50 meter yang di dominasi oleh batu-batu.
”Kita istirahat dulu atau lanjut aja nih? Kalo capek, jangan di paksain!” tanya Egar.
”Lanjut...!” ujar kami bersemangat.
Satu setengah jam berlalu, tak terasa kami sudah tiba di puncak Gede. Pemandangan di bawah adalah kawah Gunung Gede yang mengeluarkan asap vulkanik. Kawah besar dengan diameter sekitar 800 M, menganga di depan kami.
Di sebelah kiri, terlihat puncak Pangrango dengan ketinggian 3008 mdpl. Begitu gagah dan mempesonanya puncak Pangrango itu.
Tak henti-hentinya aku mengucap syukur dan memuji. Begitu agung dan indahnya ciptaan Tuhan layaknya jelmaan surga. Sungguh luar biasa. Tuhan menciptakan ini semua tidak gratis. Untuk mendapatkan semua ini kita harus rela bersusah payah.
Kami semua berdiri berjejer berfoto untuk mengabadikan momen indah ini. Senyum puas dan bahagia terpancar di wajah kami semua.
Dion mengeluarkan sepucuk bunga Edelweis dari dalam saku jaketnya. Tenyata dia memetiknya ketika kami beristirahat di dekat hamparan padang Edelweis yang cantik dan terbalut udara segar khas pegunungan.
”Edelweis ini sengaja aku petik untuk kamu, Arina. Semoga cinta kita abadi seperti bunga ini.” suara Dion begitu tulus sambil menyodorkan Edelweis ke hadapanku.
Aku meraih bunga itu dengan tangan gemetar. Dengan sigap Dion menghapus air mata yang membasahi pipiku.
”Terima kasih, Dion.” bisikku gemetar.
I love you, Arina.” Dion langsung mendekap mesra tubuh mungilku.
Love you too, Dion.”
”Kamu mau gak terima lamaran aku setelah kita lulus kuliah nanti? Karena kamu cuma satu, aku rela berkorban demi gadis yang paling aku sayang.” ujarnya mantap.
”Aku takut kamu ninggalin aku lagi, Di.”
”Gak percaya?” Dion membalikkan badannya seraya membuka mulut.
”Jangan, Dion!” aku tahu apa yang akan dilakukan Dion. ”Gak perlu kamu meneriakkan cintamu lagi. Cintamu sudah tersimpan di hatiku.” ujarku sambil memejamkan mata.
Teman-teman Dion memperhatikan kami sambil menahan tawa.
Dion sudah membuka mulutnya lebar-lebar tetapi aku keburu membekap mulutnya rapat-rapat.

Tamat

Senin, 17 Juni 2013

Seperti Kamu, Tapi Bukan Kamu

Lelaki itu,
terus menatapku ketika ia tidak sengaja menabrakku
Lelaki itu,
mirip sekali denganmu,
lelaki yang menjamah hatiku 6 bulan yang lalu

Hidung, alis, mata serta rambutnya sama persis denganmu
tetapi lelaki itu seorang pelukis
bukan seorang penulis
apalagi seorang yang puitis

Cara jalan serta gaya bicaranya pun persis seperti dirimu
dia melukiskan kecintaannya lewat sebuah kanvas
sedangkan dirimu lewat selembar kertas

Lelaki itu,
tersenyum ramah seperti senyumanmu
ketika pertama kali kita bertemu
Lelaki itu,
tampak malu-malu
seperti ketika pertama kali kamu mengajakku berkencan

Tatapan matanya,
menggairahkan namun mantap
seperti tatapanmu ketika kamu menyatakan cinta kepadaku

Kamu dan lelaki itu,
dua sosok yang berbeda tetapi sama
sama-sama datang dengan tiba-tiba dan tak terduga

Minggu, 16 Juni 2013

Makna Hidup dari Bocah Ojek Payung

            Dua bulan yang lalu, aku dan kedua temanku ingin makan siang. Kali ini makan siangnya bukan di kantin kampus, melainkan disebuah warung makan yang letaknya masih satu komplek dengan kampus. Ketika itu memang gerimis tapi kami bertiga terus saja berjalan tanpa memakai payung. Gerimis pun semakin lama semakin kencang.
Salah satu temanku, Olla, buru-buru mengeluarkan payung dari dalam tasnya. Karena ukuran payung yang tidak memungkinkan untuk menampung 3 orang, akhirnya aku memanggil bocah ojek payung yang sering berkeliaran di kawasan kampus. Kebetulan dia dan teman-temannya sedang bercengkrama di bawah pohon sambil mencipratkan air dan tertawa bersama. Jujur saja aku baru pertama kali menggunakan jasa ojek payung.
Bocah perempuan itu menyerahkan payungnya kepadaku. Dengan santainya dia jalan di tengah hujan tanpa memakai payung. Aku menarik tangannya untuk mendekat dan berjalan beriringan denganku.
“Dek, jangan ujan-ujanan nanti kamu sakit. Sini Kakak payungin aja.” kataku sambil mendekatinya.
“Gak apa-apa kok, Kak.” jawabnya dengan wajah polosnya.
Aku tetap memaksa bocah itu untuk mendekatiku. Aku betul-betul tidak tahu kalau ojek payung itu harus rela hujan-hujanan sedangkan payung miliknya diberi kepada yang membayar jasanya. Tapi tetap saja aku tidak tega melihat bocah perempuan ini hujan-hujanan walaupun kelihatannya bocah itu senang.
            Sepanjang jalan menuju warung makan, aku berbincang-bincang dengannya. Aku memang suka dengan anak-anak apalagi anak yang nasibnya kurang beruntung seperti bocah perempuan itu
            Namanya Wulan. Kulitnya coklat layaknya anak yang sering panas-panasan di bawah terik matahari. Rambutnya pun pirang. Wulan begitu lugu dan terkesan malu-malu. Dia kelas 1 SD. Sekolahnya khusus anak jalanan di daerah Pulomas Jakarta Timur. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Ibunya pengamen dan Ayahnya pengangguran.
            Dia menenteng plastik putih transparan yang berisi kerupuk. Katanya sih untuk bekal kalau-kalau Wulan merasa lapar. Tak tega rasanya melihat anak sekecil itu harus mencari uang demi sesuap nasi, hujan-hujanan pula. Aku membuka tas dan kebetulan ada air mineral bekas minumku.
            Kalau tidak musim hujan, Wulan dan teman-teman sebayanya mengamen. Sehabis pulang sekolah mereka ramai-ramai turun ke jalan untuk mencari nafkah. Ironis, umur mereka yang masih sangat belia dihabiskan untuk mencari nafkah sedangkan disisi lain, anak seusia mereka seharusnya menghabiskan hari-harinya dengan bermain dan bersenang-senang.
            “Kamu haus gak? Ini minuman Kakak ambil aja.”
            “Makasih, Kak.” Wulan meraihnya sambil tersenyum canggung.
            “Kamu gak sakit sering ujan-ujanan begini, Dek?”
            “Engga kok, Kak. Aku kan udah biasa ujan-ujanan.”
           Kasihan, kelihatannya dia kelaparan. Aku tidak enak hati hanya membayar jasanya saja. Tiba di rumah makan, aku berinisiatif mengajaknya untuk masuk dan menyuruhnya memesan makanan. Dia terlihat bingung saat aku memberinya daftar menu.
            “Kamu mau makan apa, Lan?”
            “Hmm… Aku minum aja deh ka.”
            “Kamu gak laper? Gak apa-apa pesen makanan aja. Nasi goreng mau?”
            Wulan hanya mengangguk.
            Lima belas menit kemudian, pesanan kami datang. Wajahnya Wulan begitu berseri-seri. Mungkin dia jarang sekali makan seenak ini. Mungkin juga cacing-cacing di dalam perutnya sedang bersorak-sorak ria. Tetapi ketika menyantap sesuap, wajahnya tidak berseri seperti tadi. Aku heran, apa mungkin Wulan tidak doyan atau nasi gorengnya terlalu pedas?
            “Nasinya pedes yah, Dek?” tanyaku sambil mencicipi nasi gorengnya. “Ah, enggak pedes kok.”
            “Nasinya kebanyakan Kak. Kalo dibungkus boleh gak?” jawabnya dengan suara pelan.
            “Abisin aja di sini sayang lho kalo dibuang.”
            “Aku mau kasih nasinya untuk adek sama Ibu aku, Kak. Pasti mereka di rumah belom makan deh.”
            Aku terdiam sejenak mendengar perkataan Wulan barusan. Anak sekecil ini aja mikirin adek sama Ibunya yang belom makan. Sedangkan gue, gue bisa makan apa aja yang gue mau tanpa mikirin orang tua di rumah udah makan atau belom. Kataku dalam hati.
            “Oh mau dibungkus? Yaudah kamu makan 2 suap lagi deh abis itu nanti Kakak panggil pelayannya untuk bungkusin nasi kamu.”
            Wulan melanjutkan makannya.
           Biasanya aku paling lahap jika makan di warung makan itu tetapi kali ini sepertinya nafsu makanku berkurang. Aku memaksa untuk menelan makanan dihadapanku.
            Selesai makan, kami balik lagi ke kampus. Aku membayar jasa ojek payung Wulan. Dia berterima kasih dan meninggalkan aku dengan berlari kecil. Aku pun ikut tersenyum melihat wajah berserinya.
            Pertemuan yang singkat dengan Wulan membuatku sadar dan berpikir. Bocah kecil seperti Wulan saja rela berjuang demi sesuap nasi. Sedangkan selama ini uang jajan aku belanjakan untuk barang-barang yang tidak bermanfaat dan nongkrong sana-sini bareng teman. Aku tidak pernah berpikir bagaimana susahnya orang tua mencari nafkah untuk keluarga. Walaupun aku dari keluarga mampu, tetap saja uang itu akan habis jika tidak dipergunakan dengan baik. Aku juga tidak pernah membayangkan harus hidup seperti Wulan atau aku yang berganti posisi menjadi Wulan.

            Pertemuan singkat namun penuh makna. Makna hidup yang secara tidak langsung Wulan ajarkan kepada diriku. Makna hidup yang tidak pernah diajarkan dibangku sekolah. Makna hidup juga tidak melulu diajarkan dari orang dewasa yang sudah makan asam garamnya hidup tetapi anak kecilpun bisa mengajarkan makna hidup itu.

Sabtu, 15 Juni 2013

Ayah, Ibu, sampai bertemu di Surga, ya!

        Pukul 7 pagi Nadine merasa tubuhnya semakin menggigil. Suhu tubuhnya masih di atas normal setelah seminggu lamanya tak kunjung sembuh. Bibirnya pecah-pecah, mukanya pucat pasi seperti mayat hidup. Tubuhnya sudah kurus seperti anak kurang gizi. Selimut tebal pun tak mampu membuat tubuhnya hangat. Segala macam obat-obat dokter tak mempan untuknya.
Bocah 9 tahun ini hidup dengan Kakek dan Mbok Minah, pembantu yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di rumah Tuan Bagas, pengusaha tekstil sukses sekaligus orang terpandang. Setelah kepergian Neneknya sebulan yang lalu, semua keperluan Nadine diurus Mbok Minah.
            Ayahnya dimasukkan ke Pesantren karena hobinya yang sering mabuk-mabukan dan hanya menghabiskan harta orang tuanya. Sedangkan Ibunya, bekerja di Kalimantan. Mereka sudah setahun bercerai. Setelah bercerai, Ibunya langsung pergi ke Kalimantan dan tak pernah datang mengunjungi Nadine. Hanya mainan dan uangnya saja yang tiba.
            “Nadine kangen pengin nyamperin Nenek.” Entah sadar atau tidak, kata-kata ngaco itu terus keluar dari mulutnya. Dia juga pernah bertingkah aneh dengan memanjat pohon mangga di pekarangan rumahnya. Sempat dimarahi oleh Mbok tapi tetap saja kemauan Nadine tidak bisa dihalangi. “Biar aja Nadine manjat. Itu ada Nenek lambai-lambai diatas pohon. Nadine mau nyamperin Nenek.” Siapa yang bulu kuduknya tidak merinding mendengar bocah berbicara seperti itu.
            Pukul 9 pagi Nadine dibawa ke rumah sakit oleh Mbok dan Tardi, tukang bersih-bersih rumput di rumah Tuan Bagas.
         “Ke mana bapaknya?” tanya Dokter yang keluar dari kamar periksa dengan wajah tanpa ekspresi.
            “Hmm… Bapaknya gak ada, Dok.” jawab Tardi gugup.
            “Anda siapanya?”
            “Saya cuma kuli doang, Dok.”
            “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Mbok dengan wajah cemas sambil mengepalkan kedua tangannya.
            “Innalillahi, maaf, pasien sudah pergi sebelum tiba di rumah sakit. Seandainya kalian lebih cepat mengantarnya ke sini, mungkin saya bisa membantunya. Sekali lagi saya minta maaf.”
          “Apa?” Mbok terkejut. Suaranya membuat semua yang ada disekitarnya menoleh kearahnya. Kemudian Mbok berteriak histeris diikuti dengan cucuran air matanya.
            Tardi hanya bengong tak bisa berkata-kata.
         “Mbak Nadine…. Maafin Mbok yah, Nak… Selama ini Mbok suka marahin kamu, Nak. Mbok suka mukulin kamu kalo kamu gak nurut sama Mbok…” Mbok terisak sambil meninju tembok.
           “Mbok sabar Mbok. Istighfar! Mendingan kita cepet-cepet kasih kabar ke Tuan.” ujar Tardi sambil menuntun Mbok untuk duduk.
            Setengah jam kemudian, Tuan Bagas dan Tante Ami tiba di rumah sakit dan langsung menuju rumah duka untuk mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman. Seluruh keluarga dihubungi untuk segera datang begitu juga dengan Ayah dan Ibunya. Kabar kepergian Nadine membuat semua orang kaget tidak percaya. Bagaimana tidak, belum genap dua bulan sang Nenek meninggal dan kali ini cucunya ikut menyusul.

            Para pelayat sudah berkumpul di ruang tamu rumah Tuan Bagas. Ruang tamu itu biasanya dipakai hanya untuk menyambut tamu-tamu penting saja. Mereka duduk bersila mengelilingi jenazah sambil membacakan doa-doa untuknya. Ada yang menangis ada pula yang masih tidak percaya karena baru saja kemarin sore Nadine masih bermain-main dengan bocah-bocah tetangganya.
            “Mi, si Nella udah dihubungin?” tanya Tante Dira kepada Tante Ami.
          “Udah kok. Dari Kalimantan dia langsung menuju ke sini. Dia dapet tiket jam 4 sore. Jadwal yang lebih awal udah habis.”
            “Berarti kira-kira dia tiba di sini sekitar abis maghrib.”
            “Doain aja semoga gak macet.” sahut Om Eko.
            “Si Ardan gimana, Ko? Orang pesantren udah dihubungin?”
            “Udah, Mbak. Aku nitip pesen ke orang pesantren jangan kasih tau kenapa tiba-tiba dia disuruh pulang. Nanti mereka anter Ardi ke sini kok.”
            “Syukur deh. Tinggal tunggu si Nella aja nih.”
        “Pokoknya malem ini juga Nadine harus dikubur. Sebelum maghrib, Nadine udah harus dimandiin. Pas Nella dateng, langsung kita ke pemakaman.” pinta Tuan Bagas.
            “Tapi pemakaman paling malem sampe jam 5, Pak.” jawab Tante Dira.
          “Terus harus nunggu besok pagi, gitu? Kasian Nadine. Jenazah harus buru-buru dikubur. Liat tuh badannya udah berubah jadi warna biru begitu. Dosa kita sebagai keluarga gak cepat-cepat nguburin dia.”
            “Tapi…” gumam Om Eko.
        “Gak ada tapi-tapian. Kalian urus semua masalah pemakamannya. Bayar tukang gali kuburnya! Kalo ada uang, pasti mereka mau kerja kok. Kasih aja 2 kali lipat dibanding biasanya.” Titah Tuan Bagas.
            Tante Dira, Tante Ami dan Om Eko hanya mengangguk. Mereka tidak berani berkata tidak.
            Semua kolega bisnis dan tamu-tamu penting Tuan Bagas mulai berdatangan. Ada pula  yang tidak hadir tetapi mengirimkan karangan bunga.
            “Kasian anak itu.” kata salah satu kolega bisnis Tuan Bagas.
         “Dia ingin ikut dengan Neneknya, Bu.” jawab Tuan Bagas yang matanya merah menahan tangis. Mungkin beliau tidak ingin terlihat sedih di depan tamu-tamu penting.
            “Bapaknya gak ada. Mamanya juga gak tau di mana. Kasian, Nadine pasti masuk surga.” kata ibu-ibu yang duduk disudut ruang tamu.
            “Iya, kasian dia kurang kasih sayang dari orang tuanya. Tante sama Omnya juga orang sibuk, Kakeknya juga begitu. Makanya Allah ambil dia kembali dari pada dia terlantar.” tambah ibu-ibu disebelahnya.
            Pukul 2 sore Ardan tiba di rumah duka. Dia heran melihat banyak mobil terparkir dan orang-orang di rumahnya. Mereka semua menatap Ardan. Tuan Bagas dan Mas Eko menyambutnya di muka rumah.
            “Ada apa ini, Pak? Mas?” tanyanya kepada Tuan Bagas dan Om Eko.
            Tuan Bagas tak menjawab. Matanya mengarah ke ruang tamu.
            “Masuk aja, Dan!” Om Eko menuntunnya menuju ruang tamu.
            Ardan merasa tungkainya lemas. Dia tidak kuat berjalan menuju ruang tamu. Semua orang menatapnya. “Ada apa ini?” tanyanya dalam hati. Sekarang telapak tangannya dingin dan bergetar. Dia berdiri dihadapan jenazah lalu mendekati jenazah yang mukanya ditutup kain dan terbujur kaku. Dia membuka kain yang menutupi wajah jenazah.
            “Nadine? Astaghfirullah!” cepat-cepat Ardan menutup mukanya.
            “Yang sabar yah, Dan.” kata Tante Dira sambil mengelus-elus pundak adiknya.
            “Kenapa Nadine bisa begini, Mbak?” tanyanya dengan suara keras. Air matanya mengalir. Sudah lama ia tidak menangis setelah kematian Ibunya.
            “Dia sakit sudah seminggu yang lalu, Nak.” jawab Tuan Bagas. “Maafin Bapak karena gak bisa jagain anak kamu.” dia menunduk dan menyeka air matanya.
            Ardan mendekati Nadine. Dia cium pipi anaknya berkali-kali sambil berbisik lirih. “Maafin Ayah yah, Nak. Selama ini Ayah belum bisa bikin bahagia kamu dan Ibu. Ayah sayang sama kamu, Nak. Maafin Ayah dan Ibu.” kemudian dia menggenggam erat tangan Nadine. Ardan langsung mengambil air wudhu dan membaca Yasin di depan jenazah Nadine. Dia terus memandangi Nadine. Tidak percaya anaknya begitu cepat pergi.
            Pukul 17.30 Nadine sudah dikafani. Tercium wangi bunga-bunga yang dironce ibu-ibu tetangga tadi siang. Tubuhnya sudah berwarna biru. Anehnya, wajahnya terlihat cerah dan mukanya seperti anak umur 12 tahun.
            “Manis sekali senyumnya.” kata Ardan yang terus saja memandangi anaknya tanpa beranjak sejengkal pun.
            “Dia pasti masuk surga. Seharusnya kamu bersyukur, Dan, anakmu akan jadi penolongmu ketika kamu meninggal nanti. Dia bocah yang belum punya dosa. Dia pasti disayang Allah.” tambah Tante Ami.
            “Amin… Oh ya, Mbak, Nella udah dihubungin?”
            “Udah kok. Abis maghrib dia sampe kok, Dan.”
            “Oh, bagus deh.”
            Pukul 18.30 Om Eko menghubungi Nella. Katanya, sebentar lagi dia tiba. Dari bandara dia naik taksi tapi karena tol menuju Kemayoran macet, akhirnya dia menumpang ojek. Lima belas menit kemudian, ojek yang mengantar Nella tiba di muka rumah Tuan Bagas. Nella melompat masuk ke dalam rumah. Sandal yang dia pakai pun entah ke mana larinya.
            “Nadine anakku…” teriaknya dari teras rumah.
            Dengan cepat Tante Ami menangkap tubuh Nella yangh hampir saja pingsan. Dia terisak dipelukan Tante Ami.
       “Nadine… Ini Ibu datang, Nak. Bangun, Nak, bangun!! Nadine sakit apa Mbak Ami?” tangisnya histeris sambil mengguncang-guncang tubuh kaku Nadine.
            “Sakit panas, Nel.” jawab Tante Ami yang menahan tangisnya.
          “Nak, bangun! Ini Ibu datang. Tiga hari lagi kamu kan ulang tahun. Ibu udah siapin kado untuk kamu, Nak. Kenapa kamu sekarang pergi ninggalin Ibu?”
            Semua tamu-tamu menangis tersedu-sedu melihat Nella terisak di depan jenazah. Seakan mereka merasakan apa yang Nella rasakan. Ardan pun tak banyak bicara. Ia hanya menunduk sambil menangis dan tak berani melihat wajah Nella.
            “Yuk, cepetan! Ini sudah larut malam.” kata Tuan Bagas.
            “Kamu cium Nadine dulu yah, Nel. Nadine harus buru-buru dikubur. Insya Allah, dia pasti masuk surga kok.” kata Tante Dira.
            Nella mendekati Nadine. Dia cium pipi dan kening anaknya berkali-kali. Sayangnya, Nella tidak bisa berlama-lama karena hari sudah semakin gelap dan Nadine harus dimakamkan malam itu juga. Setelah selesai, para keluarga segera memasukkan Nadine dalam keranda dan ditutup dengan kain berwarna hijau tua dan dikalungkan bunga ronce di atas keranda tersebut.

            Nella berdiri dibantu oleh Tante Dira dan Tante Ami. Tubuhnya lemas. Matanya bengkak, mungkin dia sudah menangis sepanjang perjalanan menuju Jakarta.