Sabtu, 15 Juni 2013

Ayah, Ibu, sampai bertemu di Surga, ya!

        Pukul 7 pagi Nadine merasa tubuhnya semakin menggigil. Suhu tubuhnya masih di atas normal setelah seminggu lamanya tak kunjung sembuh. Bibirnya pecah-pecah, mukanya pucat pasi seperti mayat hidup. Tubuhnya sudah kurus seperti anak kurang gizi. Selimut tebal pun tak mampu membuat tubuhnya hangat. Segala macam obat-obat dokter tak mempan untuknya.
Bocah 9 tahun ini hidup dengan Kakek dan Mbok Minah, pembantu yang sudah lebih dari sepuluh tahun bekerja di rumah Tuan Bagas, pengusaha tekstil sukses sekaligus orang terpandang. Setelah kepergian Neneknya sebulan yang lalu, semua keperluan Nadine diurus Mbok Minah.
            Ayahnya dimasukkan ke Pesantren karena hobinya yang sering mabuk-mabukan dan hanya menghabiskan harta orang tuanya. Sedangkan Ibunya, bekerja di Kalimantan. Mereka sudah setahun bercerai. Setelah bercerai, Ibunya langsung pergi ke Kalimantan dan tak pernah datang mengunjungi Nadine. Hanya mainan dan uangnya saja yang tiba.
            “Nadine kangen pengin nyamperin Nenek.” Entah sadar atau tidak, kata-kata ngaco itu terus keluar dari mulutnya. Dia juga pernah bertingkah aneh dengan memanjat pohon mangga di pekarangan rumahnya. Sempat dimarahi oleh Mbok tapi tetap saja kemauan Nadine tidak bisa dihalangi. “Biar aja Nadine manjat. Itu ada Nenek lambai-lambai diatas pohon. Nadine mau nyamperin Nenek.” Siapa yang bulu kuduknya tidak merinding mendengar bocah berbicara seperti itu.
            Pukul 9 pagi Nadine dibawa ke rumah sakit oleh Mbok dan Tardi, tukang bersih-bersih rumput di rumah Tuan Bagas.
         “Ke mana bapaknya?” tanya Dokter yang keluar dari kamar periksa dengan wajah tanpa ekspresi.
            “Hmm… Bapaknya gak ada, Dok.” jawab Tardi gugup.
            “Anda siapanya?”
            “Saya cuma kuli doang, Dok.”
            “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Mbok dengan wajah cemas sambil mengepalkan kedua tangannya.
            “Innalillahi, maaf, pasien sudah pergi sebelum tiba di rumah sakit. Seandainya kalian lebih cepat mengantarnya ke sini, mungkin saya bisa membantunya. Sekali lagi saya minta maaf.”
          “Apa?” Mbok terkejut. Suaranya membuat semua yang ada disekitarnya menoleh kearahnya. Kemudian Mbok berteriak histeris diikuti dengan cucuran air matanya.
            Tardi hanya bengong tak bisa berkata-kata.
         “Mbak Nadine…. Maafin Mbok yah, Nak… Selama ini Mbok suka marahin kamu, Nak. Mbok suka mukulin kamu kalo kamu gak nurut sama Mbok…” Mbok terisak sambil meninju tembok.
           “Mbok sabar Mbok. Istighfar! Mendingan kita cepet-cepet kasih kabar ke Tuan.” ujar Tardi sambil menuntun Mbok untuk duduk.
            Setengah jam kemudian, Tuan Bagas dan Tante Ami tiba di rumah sakit dan langsung menuju rumah duka untuk mempersiapkan segala keperluan untuk pemakaman. Seluruh keluarga dihubungi untuk segera datang begitu juga dengan Ayah dan Ibunya. Kabar kepergian Nadine membuat semua orang kaget tidak percaya. Bagaimana tidak, belum genap dua bulan sang Nenek meninggal dan kali ini cucunya ikut menyusul.

            Para pelayat sudah berkumpul di ruang tamu rumah Tuan Bagas. Ruang tamu itu biasanya dipakai hanya untuk menyambut tamu-tamu penting saja. Mereka duduk bersila mengelilingi jenazah sambil membacakan doa-doa untuknya. Ada yang menangis ada pula yang masih tidak percaya karena baru saja kemarin sore Nadine masih bermain-main dengan bocah-bocah tetangganya.
            “Mi, si Nella udah dihubungin?” tanya Tante Dira kepada Tante Ami.
          “Udah kok. Dari Kalimantan dia langsung menuju ke sini. Dia dapet tiket jam 4 sore. Jadwal yang lebih awal udah habis.”
            “Berarti kira-kira dia tiba di sini sekitar abis maghrib.”
            “Doain aja semoga gak macet.” sahut Om Eko.
            “Si Ardan gimana, Ko? Orang pesantren udah dihubungin?”
            “Udah, Mbak. Aku nitip pesen ke orang pesantren jangan kasih tau kenapa tiba-tiba dia disuruh pulang. Nanti mereka anter Ardi ke sini kok.”
            “Syukur deh. Tinggal tunggu si Nella aja nih.”
        “Pokoknya malem ini juga Nadine harus dikubur. Sebelum maghrib, Nadine udah harus dimandiin. Pas Nella dateng, langsung kita ke pemakaman.” pinta Tuan Bagas.
            “Tapi pemakaman paling malem sampe jam 5, Pak.” jawab Tante Dira.
          “Terus harus nunggu besok pagi, gitu? Kasian Nadine. Jenazah harus buru-buru dikubur. Liat tuh badannya udah berubah jadi warna biru begitu. Dosa kita sebagai keluarga gak cepat-cepat nguburin dia.”
            “Tapi…” gumam Om Eko.
        “Gak ada tapi-tapian. Kalian urus semua masalah pemakamannya. Bayar tukang gali kuburnya! Kalo ada uang, pasti mereka mau kerja kok. Kasih aja 2 kali lipat dibanding biasanya.” Titah Tuan Bagas.
            Tante Dira, Tante Ami dan Om Eko hanya mengangguk. Mereka tidak berani berkata tidak.
            Semua kolega bisnis dan tamu-tamu penting Tuan Bagas mulai berdatangan. Ada pula  yang tidak hadir tetapi mengirimkan karangan bunga.
            “Kasian anak itu.” kata salah satu kolega bisnis Tuan Bagas.
         “Dia ingin ikut dengan Neneknya, Bu.” jawab Tuan Bagas yang matanya merah menahan tangis. Mungkin beliau tidak ingin terlihat sedih di depan tamu-tamu penting.
            “Bapaknya gak ada. Mamanya juga gak tau di mana. Kasian, Nadine pasti masuk surga.” kata ibu-ibu yang duduk disudut ruang tamu.
            “Iya, kasian dia kurang kasih sayang dari orang tuanya. Tante sama Omnya juga orang sibuk, Kakeknya juga begitu. Makanya Allah ambil dia kembali dari pada dia terlantar.” tambah ibu-ibu disebelahnya.
            Pukul 2 sore Ardan tiba di rumah duka. Dia heran melihat banyak mobil terparkir dan orang-orang di rumahnya. Mereka semua menatap Ardan. Tuan Bagas dan Mas Eko menyambutnya di muka rumah.
            “Ada apa ini, Pak? Mas?” tanyanya kepada Tuan Bagas dan Om Eko.
            Tuan Bagas tak menjawab. Matanya mengarah ke ruang tamu.
            “Masuk aja, Dan!” Om Eko menuntunnya menuju ruang tamu.
            Ardan merasa tungkainya lemas. Dia tidak kuat berjalan menuju ruang tamu. Semua orang menatapnya. “Ada apa ini?” tanyanya dalam hati. Sekarang telapak tangannya dingin dan bergetar. Dia berdiri dihadapan jenazah lalu mendekati jenazah yang mukanya ditutup kain dan terbujur kaku. Dia membuka kain yang menutupi wajah jenazah.
            “Nadine? Astaghfirullah!” cepat-cepat Ardan menutup mukanya.
            “Yang sabar yah, Dan.” kata Tante Dira sambil mengelus-elus pundak adiknya.
            “Kenapa Nadine bisa begini, Mbak?” tanyanya dengan suara keras. Air matanya mengalir. Sudah lama ia tidak menangis setelah kematian Ibunya.
            “Dia sakit sudah seminggu yang lalu, Nak.” jawab Tuan Bagas. “Maafin Bapak karena gak bisa jagain anak kamu.” dia menunduk dan menyeka air matanya.
            Ardan mendekati Nadine. Dia cium pipi anaknya berkali-kali sambil berbisik lirih. “Maafin Ayah yah, Nak. Selama ini Ayah belum bisa bikin bahagia kamu dan Ibu. Ayah sayang sama kamu, Nak. Maafin Ayah dan Ibu.” kemudian dia menggenggam erat tangan Nadine. Ardan langsung mengambil air wudhu dan membaca Yasin di depan jenazah Nadine. Dia terus memandangi Nadine. Tidak percaya anaknya begitu cepat pergi.
            Pukul 17.30 Nadine sudah dikafani. Tercium wangi bunga-bunga yang dironce ibu-ibu tetangga tadi siang. Tubuhnya sudah berwarna biru. Anehnya, wajahnya terlihat cerah dan mukanya seperti anak umur 12 tahun.
            “Manis sekali senyumnya.” kata Ardan yang terus saja memandangi anaknya tanpa beranjak sejengkal pun.
            “Dia pasti masuk surga. Seharusnya kamu bersyukur, Dan, anakmu akan jadi penolongmu ketika kamu meninggal nanti. Dia bocah yang belum punya dosa. Dia pasti disayang Allah.” tambah Tante Ami.
            “Amin… Oh ya, Mbak, Nella udah dihubungin?”
            “Udah kok. Abis maghrib dia sampe kok, Dan.”
            “Oh, bagus deh.”
            Pukul 18.30 Om Eko menghubungi Nella. Katanya, sebentar lagi dia tiba. Dari bandara dia naik taksi tapi karena tol menuju Kemayoran macet, akhirnya dia menumpang ojek. Lima belas menit kemudian, ojek yang mengantar Nella tiba di muka rumah Tuan Bagas. Nella melompat masuk ke dalam rumah. Sandal yang dia pakai pun entah ke mana larinya.
            “Nadine anakku…” teriaknya dari teras rumah.
            Dengan cepat Tante Ami menangkap tubuh Nella yangh hampir saja pingsan. Dia terisak dipelukan Tante Ami.
       “Nadine… Ini Ibu datang, Nak. Bangun, Nak, bangun!! Nadine sakit apa Mbak Ami?” tangisnya histeris sambil mengguncang-guncang tubuh kaku Nadine.
            “Sakit panas, Nel.” jawab Tante Ami yang menahan tangisnya.
          “Nak, bangun! Ini Ibu datang. Tiga hari lagi kamu kan ulang tahun. Ibu udah siapin kado untuk kamu, Nak. Kenapa kamu sekarang pergi ninggalin Ibu?”
            Semua tamu-tamu menangis tersedu-sedu melihat Nella terisak di depan jenazah. Seakan mereka merasakan apa yang Nella rasakan. Ardan pun tak banyak bicara. Ia hanya menunduk sambil menangis dan tak berani melihat wajah Nella.
            “Yuk, cepetan! Ini sudah larut malam.” kata Tuan Bagas.
            “Kamu cium Nadine dulu yah, Nel. Nadine harus buru-buru dikubur. Insya Allah, dia pasti masuk surga kok.” kata Tante Dira.
            Nella mendekati Nadine. Dia cium pipi dan kening anaknya berkali-kali. Sayangnya, Nella tidak bisa berlama-lama karena hari sudah semakin gelap dan Nadine harus dimakamkan malam itu juga. Setelah selesai, para keluarga segera memasukkan Nadine dalam keranda dan ditutup dengan kain berwarna hijau tua dan dikalungkan bunga ronce di atas keranda tersebut.

            Nella berdiri dibantu oleh Tante Dira dan Tante Ami. Tubuhnya lemas. Matanya bengkak, mungkin dia sudah menangis sepanjang perjalanan menuju Jakarta.

Sabtu, 01 Juni 2013

Mereka


Semua ini karena mereka.
Ya, karena merekalah aku menjadi hina
Hina dimata mereka
Mereka selalu mengolok kecacatanku ini
Ini adalah bukti bahwa mereka lebih kejam dari seekor binatang buas
Buas laku dan ucapannya
Ucapan yang tak pernah ada makna, keji bahkan busuk
Lebih busuk dari bangkai manusia
Manusia macam apa mereka?
Mereka…

Sabtu, 25 Mei 2013

Selamat Jalan


Entah mengapa mentari pagi ini melengkungkan senyummu
Hujan yang turun pun sepertinya memaksaku untuk tetap berpijak di sini

Aku raba sketsa mawar darimu sambil memandang potret wajahmu
Pesona dirimu sulit untukku hapus dalam benakku

Seandainya sketsa ini bisa di tanam, mungkin ia telah tumbuh subur
Dan harumnya bisa kucium setiap hari

Katanya kamu tak akan pergi dariku
Nyatanya kamu betah berlama-lama tanpa di sisiku

Katanya kamu cinta kepadaku
Nyatanya kamu lebih memilih cinta yang lain

Cinta yang kau tanam sulit untukku cabut
Karena akarnya dengan cepat merambat ke seluruh tubuhku

Tetapi waktu berjalan begitu singkat
Secepat kepergianmu dari sisiku

Sampai-sampai aku lupa untuk berujar
Selamat jalan, semoga kita bisa bersua lagi di lain waktu

Rabu, 17 April 2013

Tantangan Berhijab di Era Globalisasi


            Berhijab di era globalisasi saat ini merupakan tantangan terberat dalam hidup saya. Sebenarnya saya memakai hijab bukan karena orang tua atau karena sekeluarga besar memakai hijab, tetapi memang ada dorongan dari dalam hati untuk memakainya. Walaupun sampai saat ini belum bisa dibilang syar’i.

Terlebih belakangan ini hijab seperti menjadi tren dikalangan anak muda. Tidak bisa dipungkiri ada perasaan senang ketika melihat seorang perempuan terlihat cantik mengenakan hijab, penulis dan reporter berhijab, perancang busana yang mengenakan hijab sampai baju rancangannya terkenal diluar negeri, fashion stylish yang pintar mengutak-atik gaya berhijabnya, hingga seminar tentang hijab dan perempuan berhijab, dan masih banyak lagi. Sebenarnya sah-sah saja selama tidak menyimpang dari ajaran Islam. Karena sosok merekalah perempuan-perempuan Indonesia saat ini tergetak hatinya untuk memakai hijab dan mulai mengikuti jejak mereka.

            Banyak yang memutuskan untuk berhijab, banyak pula yang membuka hijabnya dikarenakan banyak hal. Banyak juga yang menganggap berhijab itu kampungan, membatasi geraknya sebagai perempuan yang aktif, takut tidak diterima kerja, susah mendapat jodoh dan alasan-alasan lain. Diantara semua alasan diatas, ada salah satu alasan yang menurut saya tidak rasional: “Hati dulu yang dikerudingin, kepala mah belakangan. Sekarang kan banyak perempuan berhijab tapi kelakuan biadab. Mendingan seperti saya, gak pake hijab tapi gak suka bergosip.”

            Memang, bukan hanya kepala yang harus “dikerudungin” hati pun juga perlu. Tetapi mau sampai kapan membiarkan aurat kita dilihat oleh orang lain? Ketika kita membiarkan aurat terlihat, apakah itu namanya melanggar apa yang sudah Allah perintahkan? Sudah jelas firman Allah yang memerintahkan untuk menutup aurat. Islam memang tidak mempersulit, tetapi umatnya yang menyulitkan. Islam juga mempermudah, tetapi jangan disepelekan.

            Kepala sudah “dikerudungin” sudah pasti hati pun juga begitu. Kita pasti membatasi apa saja yang menurut kita tidak pantas dilakukan. Kita juga pasti malu ketika perbuatan kita tidak sesuai seperti perempuan berhijab. Justru karena hijablah kita bisa mengontrol semuanya.

            Pernah suatu hari teman bertanya kepada saya, “Pake jilbab enak gak sih? Gak panas tuh? Emangnya kamu gak kepengin pake rok pendek yang lagi happening?” Saya menjawab sambil tersenyum. “Kalo udah biasa pasti gak panas kok. Justru kamu yang kepanasan karena kepalamu kena terik matahari langsung. Bajumu juga pendek. Kalo pake jilbab kan semua badan ketutup, Insya Allah terlindung dari sinar matahari langsung. Saya juga gak iri tuh sama kalian yang gak pake hijab. Toh sekarang sudah banyak baju-baju untuk perempuan seperti saya yang gak kalah bagusnya dibanding baju kalian.”
Itu salah satu jawaban yang paling ampuh dan langsung nancep kehati.

            Bukan berarti saya tidak pernah iri melihat perempuan memakai rok pendek, hotpants, atau baju tidak berlengan. Apalagi sekarang dunia fashion sedang berlomba-lomba menyuguhkan pakaian-pakaian yang menurut saya tidak pantas dan tidak cocok dipakai oleh orang Indonesia. Sempat terbesit dalam hati “Seandainya saya gak pake jilbab, mungkin saya udah pake rok itu ke kampus atau pake hotpants itu ketika jalan-jalan di mall.” Namun buru-buru saya menepisnya. “Kasian yah dia pake celana pendek. Auratnya diobral begitu. Kepanasan pula. Ih gak takut kulitnya kebakar yah?”

            Saya juga sering kesal melihat perempuan berhijab tetapi judes, tidak mau berteman dengan perempuan yang tidak sepaham dengannya atau menjauh dari segala urusan yang bersifat duniawi dan terkesan punya pemikiran sempit dengan orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Allah memang memerintahkan umatnya agar membatasi urusan duniawi, tetapi Allah juga memerintahkan umatnya untuk banyak bergaul dengan siapapun dan terus menggali ilmu, selama ilmu itu bermanfaat dan tidak menyesatkan. Memakai hijab bukan berarti sudah terhindar dari dosa dan fitnah. Justru ini lah tantangan kita sebagai muslimah berhijab, apakah kita semakin istiqomah dijalan-Nya atau tidak.

            Semakin banyak aktifis dan tokoh-tokoh berpengaruh, membuat perempuan berhijab tidak lagi dipandang sebelah mata. Keberadaan mereka sederajat dengan lelaki bahkan lebih tinggi dari lelaki. Mereka dengan bebas melakukan kegiatan yang berhubungan dengan perempuan berhijab tanpa diusik oleh pihak-pihak yang tidak berkenan. Dan Islam juga tidak lagi dipandang suatu agama yang keras dan menakutkan.

Menjamurnya komunitas-komunitas seperti hijabers community dari berbagai daerah dan kegiatan positif yang mereka lakukan merupakan salah satu yang menginspirasi perempuan lain dan membangkitkan kepercayaan mereka. Mereka memang belum berhijab secara syar’i dan terlihat glamour tetapi bukan berarti tidak ada hal positif dari kegiatan mereka yang bisa dicontoh.

Kita sebagai muslimah berhijab yang hidup di era globalisasi yang mempunyai kebebasan berpendapat, seharusnya menyikapi fenomena diatas secara realistis bukannya malah menghakimi si A karena hijabnya tidak syar’i dan pakaian ketat. Menghakimi si B karena hijabnya panjang, bajunya besar dan berwarna gelap. Karena pemikiran seperti ini lah yang membuat Islam tidak bersatu.

Sabtu, 06 April 2013

Puisi Terakhir


Penantianku sepertinya sia-sia
sia-sia aku merindukanmu siang dan malam
apakah kau juga merindukanku? Sepertinya tidak
mungkin waktu yang telah merubah semua kenyataan ini
meski ku tak berubah, namun hanya kau lah yang menyita seluruh hatiku

Kita memang sudah nyaman dengan keadaan ini
walaupun tidak seperti yang ku harapkan
buatku, kehadiranmu  seperti membawa angin segar dihidupku
aku memang bukan wanita yang sempurna
kehadiranmu lah yang membuat diriku sempurna

Tak bisa ku pungkiri, dirimu berada diantara cinta dan benci
tetapi aku tidak dapat membedakan keduanya
perjalanan kita memang begitu singkat
tanpa kau sadari, kau telah menancapkan
sesuatu yang membuatku tergila-gila padamu

Cinta ini memang tak pernah berkurang
dan tak pernahku mencoba untuk menghilangkannya
apakah kau peduli dengan perasaan ini?
berusaha mencariku saja tidak

Semua yang telah kita lalui biarlah menjadi kenangan manis
yang lalu biarlah berlalu dan jangan sampai ini terjadi lagi
biarlah kita jalani cinta dijalan yang berbeda

Puisi terakhir ini kupersembahkan untukmu
semoga kau membacanya dan mengerti apa yang sedang ku  rasakan

Dekiru dake nakanaide. Kore de, hontouni arigatou
dakishimete! dakishimete! Ashita ga aru, mata kondo ne..

Kamis, 04 April 2013

Dua Bulan yang Lalu

Dua bulan yang lalu, ditempat, waktu dan kursi yang sama
aku masih setia menunggu kedatanganmu
menikmati hembusan angin yang tak seperti biasanya
membuka lembar demi lembar sajakmu yang tersimpan rapi dibuku catatanku
aku hapal betul setiap barisnya

Dua bulan yang lalu, ditempat, waktu dan kursi yang sama
aku mengingat pertama kali kita bertemu
ketika pertama kali aku berjabat tangan denganmu
dan pertama kali aku memelukmu

Aku termenung, membayangkan apakah kebahagiaan itu terulang
kembali atau hanya menjadi kenangan manis dalam hidupku?
semuanya terasa begitu aneh
siang dan malam masih saja memikirkanmu
semakin aku mencoba untuk melupakanmu, bayanganmu pun semakin nyata

Hari ini ditempat, waktu dan kursi yang sama
semuanya terasa begitu singkat
sesingkat kepergianmu
butir demi butir air mataku pun menetes
mungkin ini yang dinamakan cinta
mulut memang tidak saling bicara
mata pun tidak saling memandang
tetapi hati yang bicara apa yang sedang aku rasakan

Senin, 01 April 2013

Ibu


Ibu, disaat aku membutuhkan seorang teman
kau hadir disampingku
menyandarkanku ke bahumu
mendengarkan setiap keluh kesahku
mengusap air mataku ketika aku bersedih

Ibu, kau terlihat begitu anggun ketika tersenyum
wajahmu cerah seperti disinari mentari pagi

Ibu, kau memang sosok paling setia
mengalahkan setianya seorang sahabat
bahkan lebih setia dibandingkan seekor merpati

Ibu, kau tak pernah berkeluh kesan kepadaku
tidak pula bersedih dihadapanku
tidak pernah aku melihat setetes air mata membasahi pipimu

Ibu, kau rela terjaga ketika aku jatuh sakit
kau pun rela membagi makananmu ketika aku kelaparan

Ibu, setiap malam kau meninabobokan ku
mendekap hangat tubuhku
membelai lembut rambutku

Ibu, kau tiada duanya
Ayah pun tak bisa menggantikan sosokmu, Bu