Sabtu, 23 Februari 2013

Kepada Maha Pemberi Rezeki

Aku termenung dibawah pohon rindang
Menatap hamparan sawah yang membentang kehijauan
Menikmati semilir angin yang membuat dedaunan bergoyang begitu manjanya
Sejauh mata memandang, gunung dan bukit dengan ramahnya mengajak untuk dikunjungi
Suara bising bocah-bocah bermain menambah kemeriahan suasana
Dengan riangnya mereka tertawa terbahak dan berlari kesana kemari seakan tidak ada beban dihidupnya
Seandainya Aku masih kecil, mungkin kini Aku sedang bercengkrama bersama mereka
Tidak memikirkan bagaimana sulitnya hidup ini
Bagaimana beratnya menanggung derita yang dilimpahkan ke keluargaku
Sempat terbesit dibenakku, Tuhan itu tidak adil
Mengapa begitu berat beban yang kami sekeluarga tanggung?
Mengapa hanya kami sekeluarga yang memikulnya?
Mengapa tidak Engkau limpahkan saja kepada orang kaya?
Hidup kami sudah sulit, mengapa Engkau tambah kesulitan itu pula?
Ah sudahlah! Dari pada bermuram durja dan hanya bisa berpangku tangan, lebih baik aku mengambil air wudhu, bersujud dan meminta rezeki kepada Maha Pemberi Rezeki

Melody Cintaku

            25 Agustus 2010, MPA (Masa Pengenalan Akademik) hari pertama di kampusku, semua mahasiswa baru dari semua jurusan di FBS (Fakultas Bahasa dan Seni) berkumpul di aula perpustakaan. Ruangan itu penuh sesak, pengap dan ramai oleh suara disana-sini.
Di tengah acara, panitia menyuruh kami untuk maju mewakili masing-masing jurusan untuk menjadi perwakilan dan menunjukkan bakat yang mereka punya. Ketika semua perwakilan maju, aku menganggap tidak ada yang istimewa.
Aku mencoba mengangkat kepala, memperhatikan satu persatu dari mereka yang sedang menunjukkan bakat. Aku melihat cowok dari jurusan bahasa Perancis menunjukkan bakat menyanyi dengan bahasa Perancis. Rasa kantuk pun tiba-tiba hilang. Cowok itu membuatku tak bisa berkedip dan menarik perhatianku dengan gayanya Memperhatikan setiap gerak-geriknya. Berharap dia balik menatapku.
***
Pagi itu aku  berjalan terburu-buru menuju kelas. Melewati pendopo yang biasa disinggahi mahasiswa bahasa Perancis. Tanpa sengaja aku melihat cowok yang menarik perhatianku saat MPA minggu lalu. Senyumnya manis, keren, walaupun sedikit acak-acakan. Sejak saat itu ketika melewati pendopo, aku selalu menoleh dan berharap ada dia disana. Mencuri pandang untuk melihat senyumannya, itu saja sudah cukup membuat hatiku senang.
***
“Melody, ikut yuk!”
“Kemana?”
“Ke terbuk. Ada acara disana.”
Sebelum menjawab, Neno menarik tanganku.
Tanpa tahu acara apa, aku dan teman-teman duduk dipinggir terbuk. Aku melihat cowok itu berjalan membawa bass merah. Gak nyangka kita bisa bertemu lagi disini. Ternyata cowok itu tampil bersama teman-temannya. Dia bernyanyi sambil bermain musik. Sayangnya, sampai detik ini aku tidak tahu siapa nama cowok itu.
***
            24 November 2012, jurusanku mengadakan acara Jiyuu Matsuri Festival Kebudayaan Jepang. Acara yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Jurusan bahasa Perancis diundang untuk tampil diacara tersebut. Aku sebagai panitia dokumentasi kebetulan mendapat tugas mengambil gambar jurusan mereka.
“Kak, ada yang keren loh diantara mereka.” Kata Rani, juniorku yang berdiri disampingku.
“Yang mana?” Jawabku datar tanpa menoleh.
“Liat aja noh satu-satu. Kayaknya gue tau nih lo lagi fotoin siapa? Yang megang keyboard yah? Gue ada nih nomernya, mau gak?”
“Eh bacot lo jangan gede-gede ngapa, Ran!”
 “Mau tau gak siapa namanya?” goda Rani mengedipkan mata.
“Udah tau tuh.” Kataku masih sibuk memotret.
“Tau darimana?”
“Nanti gue certain.”
“Oke, gue siap dengerin.”
***
            Aku bersandar diruang istirahat panitia sambil memijit kaki yang lelah karena seharian mondar-mandir mengambil gambar.
Rani mengintip dari luar kemudian masuk dan langsung rebahan di lantai.
            “Akhirnya bisa rebahan juga,” Rani celingak-celinguk dan menemukan diriku sedang bersandar dipojokan. “Kak, lanjutin cerita yang tadi dong! Penasaran nih.”
            “Mulai darimana?” jawabku bersemangat
            “Dari awal dong!”
            “Awalnya, gue liat Ben waktu MPA. Setiap hari gue ketemu di pendopo, lama-lama diperhatiin kok dia keren juga yah.. Mulai dari situ gue tau tentang dia, kebetulan gue punya temen yang sekelas sama Ben. Dari dia, gue tau semuanya tentang Ben. Kegiatannya, kesukaannya, apapun tentang Ben. Terus gue liat dia tampil sama band jurusannya di terbuk. Nyanyi bisa, main gitar bisa, bass bisa dan yang kerennya lagi tuh pas tadi, dia main keyboard.” Kataku panjang lebar.
            “Tapi sampe sekarang masih suka sama dia? Kenapa gak nyuruh temen lo aja untuk sampein perasaan lo ke Ben?”
            “Bukan suka, Ran. Lebih tepatnya mengagumi. Jangan bilang ke Ben yah, Ran!”
            “Gak janji.” Rani melenggang pergi.

Keesokan harinya, Rani memberi tahu sms antara dia dan Ben.
“Kak, kemarin gue sms-an dong sama Ben. Mau liat gak?” Rani menyodorkan handphonenya.
“Awas yah sampe lo keterusan sms-an sama dia.”
“Ya ampun gue gak sejahat itu Kak. Kaya baru kenal aja sama gue.”
“Iya gue percaya. Pokoknya jangan pernah lo bahas-bahas gue. Oke?”
“Gak janji Kak. Tau sendiri mulut gue sering keceplosan hehehe.”
***
Semenjak acara Jiyuu Matsuri, perasaan ke Ben semakin menggebu. Pengin kenalan tapi malu takut Fajarnya sombong. Aduh gimana dong?
Ketika sedang duduk di lorong gedung D, Rani memanggilku. “Kak, gue mau kasih souvenir nih untuk anak art perform, mau ikut gak?”
“Ke anak bahasa Perancis juga gak?”
“Iyalah.. Makanya gue ajak lo.”
“Boleh deh. Kapan?”
“Lusa yah gue kabarin lagi jadi atau engganya.”
“Oke.”
***
Seperti yang telah dijanjikan, aku dan Rani pergi ke pendopo bahasa Perancis membawa souvenir.
“Ran, pokoknya nanti gue nunggu lo di depan pintu aja yah. Gue malu.”
“Gak apa-apa ikut aja lagian Ben gak kenal lo, Kak.”
“Enggak. Pokoknya gue tunggu lo di depan pintu. Gue ngeliat lo aja dari jauh”
“Terserah..” Rani keluar menuju pendopo.
“Ben…”
“Hei Rani. Mau kasih apaan sih repot banget kayaknya?” tanya Ben ramah.
“Kenang-kenangan dari panitia Jiyuu Matsuri kemarin. Tolong diterima yah.”
“Makasih yah, Ran. Oh iya, mana sih yang namanya Melody itu? Penasaran gue.”
“Anaknya malu. Dia nunggu di E tuh.”
“Gue mau kenalan deh sama dia.”
“Lo jangan ngomong macem-macem yah, Ben.”
“Iya, Rani… Ayo kita samperin!”
Dari kejauhan, aku melihat mereka menuju gedung E. “Aduh ngapain sih mereka kesini? Gue gak siap ketemu Ben.” Aku memutuskan untuk bersembunyi di kamar mandi. Berjalan tergesa-gesa hingga menabrak orang yang sedang lewat.
“Melody!” teriak Rani.“Kok kabur sih dia? Ben, tunggu sini yah gue mau samperin.” Rani mengejarku sampai kamar mandi. “Kenapa kabur? Ben mau kenalan tuh. Dia nunggu diluar.”
“Gue malu, gue gak siap ketemu sama dia sekarang.” jawabku kesal
“Jangan banyak omong!”
Rani menarik tanganku. Aku segera membereskan tatanan rambut dan baju “Udah rapi belom?”
“Udah.”
“Melody yah?” tanya Ben ramah.
Dagdigdug jantungku berdetak kencang “Iya gue Melody.” Aku mengulurkan tangan. Ya ampun akhirnya gue bisa berjabat tangan sama Ben.
“Gue, Ben. Jadi bingung nih mau ngomong apa hehehe.” Ben terlihat canggung.
“Iya, sama nih bingung juga mau ngomong apa.”
 “Yaudah deh gue mau balik lagi ke pendopo. Bye.” Ben melambaikan tangan.
Bye.” Aku membalas lambaiannya.
“Ciye… Ada yang gak dicuci tuh tangannya hahaha.” Rani menggoda.
“Lo yang nyuruh Ben kenalan sama gue yah?”
“Engga kok.” Rani mencoba berbohong.
“Gak usah boong deh! Ben gak kenal sama gue. Atau jangan-jangan lo certain semuanya ke Ben?”
“Jadi gini, sebenernya tiap malem gue sms-an sama Ben. Jangan mikir macem-macem! Gue sms-an sama dia ngomongin lo. Terus dia minta dikenalin deh sama lo. Kurang sayang apalagi coba? Gara-gara gue juga kan lo bisa kenalan sama dia. Bisa berjabat tangan sama dia.” jawab Rani seakan tak bersalah.
“Tapi Ran..”
“Ah, udahlah. Yang penting sekarang udah saling kenal kan? Yaudah nikmatin aja!” Rani membela diri.
“Makasih yah, Ran. Akhirnya gue bisa kenalan sama Ben. Pokoknya gue gak mau cuci tangan. Harum banget tangannya, masih nempel nih ditangan gue.”
“Bisa ikutan gila nih lama-lama deket lo! Udah yuk cepet balik ke kelas.”

            Sejak perkenalan itu, Aku dan Rani sering sindir-sindiran ketika bertemu dan ketika di twitter yang akhirnya menyerempet dan membawa-bawa nama Ben. Mungkin kami terbawa suasana hingga akhirnya timbul masalah yang agak mengganggu hidupku.
Mula-mula temanku, Petra, yang juga teman sekelasnya Ben bertanya kepadaku. “Mel, lo ada masalah yah sama ceweknya Ben?”
            “Kenal juga enggak sama ceweknya.” jawabku kebingungan
            “Yang bener?”
            “Iya serius. Emangnya ada apa?” aku masih bingung
            Petra memforward semua kicauan ceweknya Ben dari awal sampai yang paling terbaru. Aku kaget bukan main, gak nyangka cewek itu tau semua apa yang aku bicarakan di twitter bersama Rani. Yang lebih menyakitkan lagi, dia berkicau menggunakan bahasa Inggris yang kasar. Aku terdiam. Ternyata selama ini dia mata-matain twitter gue. Tapi, dia tau darimana? Kalo kesel sama gue kenapa gak ngomong langsung? Kenapa nyindir sampe sebut gue cewek jalang? Aku bertanya-tanya dalam hati. Aku berpikir apa yang harusku lakukan. Oke, aku harus kasih tau Rani masalah ini!
            Satu jam lamanya aku menunggu sms balasan dari Rani, tapi kok gak dibalas yah? Apa dia udah tidur? Aduh Ran… disaat seperti ini kenapa lo udah tidur sih?
***

            Esok paginya, Rani meraih handphonenya dengan mata masih mengantuk. Dia kaget dan segera membalas smsnya, “Kenapa Kak? Telpon sekarang!”
Aku ceritakan semua kejadian tadi malam.
            “ Gue bingung, Ran,  harus marah atau sedih.” Kataku lemas.
“Tapi gak seharusnya dia ngatain kita sekasar itu. Gak disekolahin tuh mulut? Kurang ajar bocah ingusan ngajak berantem!” Rani mulai emosi. “Tapi yang masih gue bingung, cewek itu tau twitter kita darimana?”
            “Mungkin Ben cerita kalo dia kenalan sama gue. Inget gak, lo pernah bikin status whatsapp username twitter lo? Mungkin dia juga cerita tentang lo yang ngenalin gue ke dia. Terus cewek itu cari tau tentang kita. Pas buka timeline lo, ada nama gue, Dia baca semua kicauan  kita yang bawa-bawa nama Ben. Mungkin dari situ ceweknya marah besar. Apalagi kicauan kita parah banget sampe nyindir-nyindir.”
“Gue sih gak masalah ceweknya ngamuk atau mau ngapain, yang gue pikirin, apa jadinya hubungan baik kita sama Ben? Malu banget kalo berpapasan di jalan.”
            “Gue juga mikir begitu. Apa yang harus gue lakuin, Ran?”
            “Santai aja, toh kita gak kenal dan gak ada urusan sama cewek itu. Kalo dia masih ngebacot, ada gue kok yang selalu nemenin lo, gak usah takut. Gak usah dipikirin semua omongannya.” kali ini Rani menjawab dengan tenang.
            “Sakit hati gue! Lagian cuma kagum kok gak lebih.. Kenapa harus sekasar itu? Bisa bedain gak sih antara kagum dan rasa suka?”
            “Kalo emang dia berpikir dewasa, ada yang kagum sama pacarnya itu wajar kok. Emang dasar masih bocah aja, pikirannya curigaan meluulu. Lagian baru pacaran. mana tau kedepannya bisa nikah atau enggak, iya kan?”
            “Hahaha setuju! Sekarang gue udah tenang.” Ujarku bersemangat.
Lega rasanya menceritakan semuanya ke Rani. Aku tidak lebih dari seorang pengagum. Bisa kenal dan berjabat tangan dengannya pun sudah lebih dari cukup. Terima kasih Tuhan, walaupun dia tidak bisa aku gapai, namun aku berharap, Ben bisa menjadi seorang teman.
Manusia memiliki mimpi, ada yang mengejarnya dan mewujudkannya, ada yang mundur dan membuangnya, dan ada pula yang diam dan hanya menyimpannya sepanjang sisa hidupnya.
Walaupun pertemuanku dengannya tidak seperti yang diharapkan, setidaknya kita sudah saling berbicara. Setelah sekian lama aku hanya bisa mengagumimu.

Rabu, 20 Februari 2013

Melody Cintaku (sajak)

Pertemuan pertama itu sangat berkesan bagiku
Seperti ada yang menyapa  hatiku ketika itu
Aku tak tahu apa yang terjadi, tetapi hati ini selalu ingin bersama dirimu
Diri ini tak kuasa untuk menolaknya
Mata ini selalu ingin menatapmu
Bibir ini tak berhenti untuk tersenyum dan memuji dirimu
Dada ini berdetak lebih kencang

Aku juga tak tahu mengapa rasa ini semakin hari semakin kuat, menancap tepat dihatiku dan menjamah setiap celah rongga nafasku
Rasanya, seperti tertarik oleh magnet
Petikan gitarmu melantunkan melody cintaku
Aku hanya bisa berharap dan berdoa semoga tuhan selalu melindungimu walau kau tak jadi milikku
Dan aku hanya bisa bermimpi bisa membelai lembut wajahmu ketika kau tertidur lelap

Sabtu, 16 Februari 2013

Inikah Akhir Duniaku?



Setiap hari bumiku dibasahi oleh air hujan
Air yang mungkin tidak semua orang menginginkannya
Air yang bisa menimbulkan bencana
Dan air yang bisa menyebabkan kesuburan bagi yang menginginkannya

Ya Allah.. mengapa air itu tidak pernah berhenti mengalir dari langit?
Dan mengapa air itu bisa membuat seluruh Jakarta porak poranda?
Jadikanlah air itu sebuah keberkahan dan rezeki dari Mu
Jangan jadikan air itu suatu tanda bahwa kau murka kepada kami
Ya Allah.. apakah ini akhir duniaku? Apakah itu sentilan dari Mu karena kami lalai?
Astaghfirullah, maafkan kami ya Allah

20 januari 2013

Naya


Namaku Naya. Naya Sophia. Sekarang aku duduk dibangku kelas 3 SMA. Aku lahir dari keluarga yang serba bercukupan. Aku, Papa, Mama dan adik ku yang bernama Nina, dia berusia 6 tahun. Dia sangat lucu, manja dan juga pintar. Setiap yang Aku dan Nina pinta pasti selalu dituruti oleh Mama Papa. Kehidupan kami sangat bahagia walaupun Mama dan Papa sibuk, tetapi mereka selalu menyempatkan waktu luang untuk menemani Aku dan Nina setiap hari. Papa mempunyai perusahaan furniture sedangkan, Mama bekerja sebagai manager disalah satu restoran terkenal di Indonesia. Gaya hidupku bisa dibilang sangat glamour.
Pada hari minggu yang cerah aku sedang menemani Nina, bermain di teras belakang rumah. Sedang asyik bermain, tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dari kamar Mama.  Terdengar suara yang tidak enak di dengar olehku terlebih Nina yang masih kecil. Aku mendekati sumber suara tersebut. Ternyata Papa Mama sedang bertengkar.
                     
“kak ada apa?” tanya Nina sambil menarik baju ku
“ hah? Gak apa-apa kok de” aku bingung harus menjawab apa. Sambil menahan tangis, aku mengajak Nina masuk ke dalam kamar tetapi dari raut wajahnya menunjukkan kebingungan. “kita main disini aja yuk de! Diluar panas.”
Nina mengangguk.

                                                ***

          Sambil menatap langit-langit kamar, aku mencoba memejamkan mata tetapi tidak bisa. “Sebenernya Papa Mama kenapa sih? Apa mereka ada masalah? Mau tanya tapi gak enak. Aduuuh gimana ini? Selama ini Papa Mama gak pernah loh berantem kayak tadi siang. Ada apa yah? Udah ah gue tidur besok pagi aja gue tanya.”

                                                          ***

          “Nay, bangun nanti kamu terlambat!” terdengar suara Mama mengetuk pintu dari luar kamar. Aku membuka mata dan melihat jam yang menunjukkan pukul 05.30. Aku bergegas menuju kamar mandi setelah rapi memakai baju sekolah, Mama memanggil untuk sarapan. Setelah duduk di meja makan, aku mencoba memberanikan diri untuk bertanya masalah kemarin siang.
          “Hmmm.. Mah?”
          “Iya apa nak?”
          “Eng… gak jadi deh” jawabku gagap dengan wajah bingung
          “Kamu ini gak jelas deh”
          “Dari dulu hehe..”
          “Udah cepet makannya nanti telat!”
          “Iya mah..”

                                                          ***

          “Nay Nay Nay….” Ratna memanggil Naya tapi dia tidak mendengar. Ratna menepuk pundak Naya “woy bolot amat sih lo Nay dipanggil gak denger”
          “lo manggil gue? Gak denger hehe maap deh” jawabnya santai sambil merangkul sahabat nya itu. “Na pulang sekolah lo mau kemana? Nongkrong tempat biasa dulu yuk!”
          “oh oke gue juga males nih pulang cepet”
***

          Tak seperti biasanya rumah sepi seperti sekarang. Aku menuju ke kamar Mama, disana Mama sedang membaca buku.
          “Mama sendirian? Papa kemana mah?” mendekati mama
          “Ada meeting di kantor”
          “tumben. Gak biasanya begini deh” mama tidak menjawab pertanyaanku. Terdengar dari luar suara mobil papa. “itu dia Papa pulang” aku keluar kamar dan menyambut papa. “papa darimana sih tumben pulang malem?”
          “papa banyak kerjaan Nak. Mama kamu mana?” sambil membuka sepatu dan dasinya
          “ada di kamar”
          “yaudah, papa masuk dulu yah capek mau tidur”
          “iya pah” kami masuk ke kamar masing-masing
Tidak lama kemudian, aku mendengar Papa dan Mama bertengkar lagi. Aku buru-buru menuju kamar mereka. Mendekatkan telinga ke daun pintu. Aku mencoba untuk masuk. Mereka berdua menatap kearah pintu.
          “ada apa ini?”
          “gak, gak, gak ada apa-apa kok nak” jawab mama dengar ekspresi gugup
          “aku denger pertengkaran ini lama Mah. Ada masalah? Coba tolong jelasin!” kataku
          gemetar menahan tangis
          “bener Nak gak ada apa-apa. Kamu tidur lagi aja yah..” Papa menggiring ku ke
          kamar. aku mengikuti dengan tubuh lemas

Kejadian itu terus-menerus terulang hingga akhirnya Papa Mama memutuskan untuk bercerai. Bagai petir disiang bolong. Praaaang shock!!! gelas yang ku genggam terjatuh ketika aku mendengar berita yang sangat buruk itu dari Mama. Seperti itu lah perasaan ku sama seperti gelas yang pecah. Hatiku hancur. Aku hanya bisa terdiam, mama pun menangis. Dia memelukku. Aku sudah membujuk agar mereka tidak berpisah tapi mereka tetap pada pendirian masing-masing untuk bercerai dan memilih tinggal masing-masing. Semanjak kejadian itu aku menjadi seorang yang penyendiri, cengeng, bahkan aku sempat berusaha untuk bunuh diri. Tapi aku masih memikirkan Nina yang masih kecil. Seandainya dia tahu apa yang sedang terjadi. Ku  tatap mata gadis kecil itu ku peluk erat-erat.
          “ kak dari kemaren kok nangis terus?" tanya nya dengan muka yang polos
          gak apa-apa kok sayang.” sambil berusaha menghapus air mataku supaya tidak
Jatuh lagi.

Aku tidak ingin Nina merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin pergi jauh dari rumah untuk menenangkan diri. Aku pergi ke pantai. Aku termenung di tepi pantai sambil menangis. Biasanya aku datang ke tempat ini bersama Papa, Mama dan Nina. Tapi sekarang datang sendiri dengan perasaan yang hancur. Papa Mama menelpon tapi tidak aku angkat. Melihat sunset yang indah itu semua belum cukup untuk membuat diriku tenang. Setelah tenang, aku pulang. Mama langsung menyambutku.
          “Alhamdulillah kamu udah pulang.. darimana aja kamu Nak?kamu dari mana saja kamu Nak?” tanya nya dengan wajah yang cemas.
Aku tidak menjawab pertanyaannya dan langsung masuk ke kamar.

                                                ***

“sabar ya Nay keluarga lo lagi dicoba sama Tuhan, lo harus banyak bersabar.” Kata
 Dina member semangat
          “iya Nay jangan sedih lagi yah kita semua sayang sama lo tambah Rio
          iya makasih banget ya lo emang sahabat terbaik gue” kataku mencoba untuk
tersenyum.
“hmm pulang sekolah nongkrong ditempat biasa yuk!” ajak Mita
“ayo ayo udah lama juga kita gak kesana!” sahut Rio
“Nay lo ikut kan?” tanya Mita
“sori Ta, gue lagi males kemana-mana. Kapan-kapan aja deh!” jawabku lemas
“yah.. yaudah deh minggu depan lo harus ikut ya Nay”
“siap bos”

                                      ***

Aku tidak mungkin memusuhi Papa Mama dengan alasan karena mereka ingin bercerai. Aku dan Nina masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari mereka tetapi untungnya, bercerai bukan berarti mereka saling membenci dan bermusuhan. Papa masih sering datang kerumah sekedar bertemu dengan Mama, aku dan Nina. Papa juga sering mengajak jalan-jalan kami ketika libur. Itu semua tidak cukup bagiku yang ku inginkan mereka kembali rujuk.
          “Papa kemana aja sih kok pulangnya baru sekarang?" tanya Nina lugu.
          maaf ya Nak, Papa sibuk kerja, 'kan kerja uangnya untuk beli baju dan mainan
untuk Nina..” jawabnya menahan tangis
         
Aku termenung seandainya waktu bisa diputar kembali. Aku yakin Papa Mama masih saling mencintai. Aku mengajak Papa Mama duduk santai di ruang keluarga, aku ingin berbicara serius dengan mereka.
          “Pah Mah, sebenernya masalah apa sih sampai memutuskan untuk bercerai? Kalian
Udah gak sayang lagi sama Aku dan Nina?”
          Mereka saling bertatapan. Hening.
          hmmm kami... kami merasa sudah tidak ada kecocokan lagi” Papa menjawab
dengan terbata-bata.
          kami juga gak mau sampai seperti ini" tambah Mama.
          selama 18 tahun papa bilang gak cocok? kemaren-kemaren kemana aja?” tanyaku
agak sedikit membentak. “aku mau kalian rujuk!”
          “gak bisa Nak ini udah komitmen kami” jawab Papa. Mama hanya menangis
          kenapa gak bisa? itu alesan sepele!” aku memotong pembicaraan Papa. “Papa
 Mama masih saling mencintai kan? kenapa harus berpisah? kalian gak mikirin
 Gimana masa depan Aku dan Nina? Kasian Pah, Nina masih kecil masih butuh kasih
 sayang dari Papa Mama Aku menangis dan pergi meninggalkan mereka.

Mereka hanya terdiam sambil menahan tangis.
“gimana nasib anak-anak kita? Aku gak tau apa yang harus Aku lakukan” kata Mama
sambil menangis.
“kita memang gak seharusnya berpisah tapi waktu itu kita sama-sama egois”
“kamu pilih keluarga atau egois kamu itu?” tanya Mama
“aku.. aku.. pilih keluarga. Kalian gak akan tergantikan dengan apa pun” jawab Papa
 menutup mukanya dengan tangan.
         
Mama langsung memeluk Papa. Mereka menyesal dan menyadari apa yang selama ini mereka pilih. Mereka mendatangi ku yang sedang menangis dikamar. Aku hanya terdiam ketika mereka masuk ke kamar.
          “Nay maafin kami yah Nak!
Kami betul-betul menyesal”
          Aku masih terdiam dan tidak mau menatap mereka.
          “kami akan rujuk. Tapi syaratnya....” kata Papa mengajak bercanda
          benarkah? Apa syaratnya pah?”
          kamu gak boleh sedih lagi!” jawab Papa tersenyum
          Aku tersenyum senang sambil menghapus air mata makasih banyak yah Pah Mah”
          Aku langsung memeluk dan mencium pipi mereka.
          "kok Aku gak di peluk?" tanya Nina yang tiba-tiba muncul
          Kami bertiga tertawa dan segera memeluk Nina.
          besok kita jalan-jalan ke pantai yuk Pah!” rayu Nina
          “hmm.. bosen ah bagaimana kalau kita ke Bali?” jawab Papa dengan raut muka yang
senang.
“Bali? Waah.. sekarang aja yuk Pah!”
Kami semua tertawa lepas. Akhirnya suasana rumah kembali seperti dulu lagi.  Terima kasih banyak Tuhan :)